Workshop Participatory Planning di UNESA Hadirkan Pemateri dari Arkom Jatim dan LBH Surabaya
Surabaya, 19 September 2025 – Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) sukses menggelar workshop bertajuk "Participatory Planning: Merancang Kota Bersama Warga" pada 19 September 2025, bertempat di Gedung E1 lantai 3 Fakultas Teknik UNESA. Kegiatan ini dihadiri oleh mahasiswa PWK UNESA dan menghadirkan tiga narasumber inspiratif dari bidang advokasi dan perencanaan partisipatif.
Tiga pemateri utama yang hadir yaitu Kak Jazillah Hikmi Nur Aqidah dan Kak Rosifatul Umamah dari Arkom Jatim (Arsitek Komunitas Jawa Timur) serta Kak Achmad Roni dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya. Ketiganya membagikan wawasan dan pengalaman mereka dalam mendorong keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan ruang yang adil dan berkelanjutan.
Dalam sesi pertama, Kak Jazillah dan Kak Rosifatul dari Arkom Jatim menyampaikan pendekatan partisipatif dalam perencanaan kampung kota. Mereka menjelaskan pentingnya mendengarkan suara warga dalam merancang lingkungan permukiman, serta menyajikan studi kasus nyata dari berbagai wilayah dampingan Arkom Jatim.
“Partisipasi warga bukan hanya sekadar formalitas, tapi esensi dari keadilan dalam perencanaan. Mereka yang tinggal di sana adalah ahli atas lingkungannya sendiri,” ungkap Kak Rosifatul.
Sesi kedua diisi oleh Kak Achmad Roni dari LBH Surabaya, yang mengangkat aspek hukum dan advokasi dalam konteks perencanaan partisipatif. Ia menyoroti tantangan hukum yang sering dihadapi komunitas akar rumput dalam mempertahankan ruang hidupnya, serta pentingnya pendampingan hukum dalam proses advokasi tata ruang.
Workshop ini berlangsung interaktif, di mana para peserta diajak berdiskusi, simulasi, dan merancang gagasan perencanaan berbasis partisipasi. Mahasiswa terlihat antusias dalam menyampaikan pendapat dan bertanya langsung kepada para pemateri.
Kegiatan ini diakhiri dengan sesi refleksi dan penyerahan sertifikat kepada para pemateri. Workshop ini diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat semangat kolaborasi antara akademisi, praktisi, dan masyarakat dalam menciptakan kota yang inklusif dan berkeadilan.