Active Mobility Culture: Saatnya Mahasiswa Menjadi Penggerak Kota Sehat
“Langkah kecil setiap hari bisa
menjadi gerakan besar menuju kota yang lebih sehat.”
Surabaya terus bertransformasi menjadi kota
yang ramah bagi pejalan kaki dan pesepeda. Di tengah semangat pembangunan
infrastruktur modern dan penghijauan kota, muncul satu gagasan penting yang
semakin relevan: mobilitas aktif. Konsep ini menekankan cara berpindah
tempat dengan mengandalkan tenaga manusia: berjalan kaki, bersepeda, atau kombinasi
dengan transportasi publik.
REALITAS DI KAMPUS UNESA
Di lingkungan kampus, mobilitas aktif menjadi isu menarik. Di
Universitas Negeri Surabaya (Unesa), sebagian besar mahasiswa masih
mengandalkan sepeda motor, bahkan untuk jarak yang relatif dekat antar gedung.
Hal ini tidak lepas dari faktor kebiasaan, cuaca panas, serta minimnya
fasilitas teduh dan jalur pejalan kaki yang nyaman.
Namun, ada potensi besar untuk perubahan. Area kampus yang luas dan relatif datar sebenarnya mendukung penerapan sistem “campus walkability”, apalagi jika diikuti dengan kebijakan parkir terpusat dan penyediaan fasilitas sepeda kampus. Kampus juga bisa mengadopsi kegiatan seperti car-free day, atau lomba bike to campus untuk mendorong perilaku baru di kalangan mahasiswa.

Gambar jalur pedestrian di 2 titik
di Kampus Unesa Ketintang
Sumber: google, 2025
BELAJAR DARI KAMPUS LAIN
Praktik mobilitas aktif sudah mulai diterapkan di beberapa
kampus besar.
Di Universitas Airlangga (UNAIR) Kampus B, misalnya, area parkir kini
dipusatkan di dekat gerbang utama, dan mahasiswa harus berjalan kaki menuju
gedung kuliah. Meskipun awalnya menimbulkan keluhan, kini kebijakan tersebut
justru membuat kawasan kampus terasa lebih tertib, hijau, dan bebas polusi.
Di luar negeri, National University of Singapore (NUS) dan
University of California, Davis menjadi contoh kampus yang sukses membangun
budaya mobilitas aktif. NUS menyediakan jaringan jalur pedestrian dan sepeda
yang terhubung dengan sistem shuttle kampus, sementara UC Davis dikenal sebagai
“bicycle campus” dengan ribuan sepeda yang beroperasi setiap hari menjadikan
bersepeda sebagai bagian dari identitas kampus itu sendiri.
“Di luar negeri, misalnya kampus dan institusi di Inggris yang
bekerja sama dengan Pavegen Systems telah memasang ubin tenaga kaki di koridor
yang ramai — sehingga setiap langkah mahasiswa atau staf bisa menghasilkan
listrik ringan dan juga menjadi bagian dari sistem pemantauan keberlanjutan. Di
Jepang pun ada stasiun dan koridor pejalan kaki yang memanfaatkan lantai piezoelektrik
untuk menangkap energi langkah. Ini mempertegas bahwa mobilitas aktif bukan
hanya soal berjalan kaki atau bersepeda, tetapi bisa diintegrasikan dengan
teknologi dan sistem kampus yang lebih besar.”
DARI ENERGI TUBUH MENJADI ENERGI
TERBARUKAN
Lebih dari itu, inovasi teknologi juga mulai dikembangkan untuk
memanfaatkan energi dari langkah kaki manusia. Di Inggris, beberapa universitas
bekerja sama dengan Pavegen Systems untuk memasang ubin khusus di area kampus
yang ramai. Setiap langkah mahasiswa di atas ubin tersebut menghasilkan energi
listrik kecil yang digunakan untuk menyalakan lampu atau sistem sensor
keberlanjutan kampus. Di Jepang, teknologi lantai piezoelektrik bahkan telah
digunakan di beberapa koridor stasiun dan area publik yang padat, mengubah
energi tekanan langkah menjadi listrik yang dapat digunakan kembali.
Inovasi-inovasi ini membuktikan bahwa mobilitas aktif dapat
menjadi sumber energi baru sekaligus sarana edukasi lingkungan. Dengan langkah
sederhana seperti berjalan kaki, mahasiswa tidak hanya berkontribusi pada
kesehatan pribadi dan kualitas udara, tetapi juga membuka peluang menuju masa
depan kampus yang lebih cerdas, efisien, dan berkelanjutan.

Gambar penerapan Ubin Energi
Pavegen di salah satu kampus di Inggris (kiri) dan di Lokasi public space di Birmingham
(kanan)
Sumber: Pavegen Systems - Bird Street Smart Walkway, London, UK.
MENUJU KAMPUS DAN KOTA YANG
BERGERAK BERSAMA
Kota Surabaya memiliki modal besar untuk mengembangkan budaya
mobilitas aktif. Jalur sepeda yang mulai terkoneksi, area hijau yang semakin
luas, serta dukungan dari komunitas lokal bisa menjadi titik awal kolaborasi
antara pemerintah, kampus, dan masyarakat.
Jika ingin merancang kota yang berkelanjutan,
maka harus dimulai dari diri sendiri salah satunya dengan cara bergerak setiap
hari. Dengan semangat tersebut, kampus dapat menjadi laboratorium hidup untuk
perubahan perilaku. Langkah sederhana seperti berjalan kaki lima menit dari
parkiran ke kelas, atau memilih naik transportasi umum menuju kampus, bisa
menjadi bagian dari gerakan besar menuju Surabaya yang aktif, sehat, dan
berkelanjutan.
-GAR-