Ketimpangan Ekonomi dan Refleksi Sila ke-5 Pancasila: Keadilan Sosial yang Masih Menjadi Masalah
Penulis: Kelompok 4 (Kelas A) - Mahasiswa PWK Universitas Negeri Surabaya
Video Proyek: https://youtu.be/FDhnu5JfNFE?si=lQxVfsFxLjpAJAEO
Ketimpangan Ekonomi: Masalah Lama yang Masih Nyata
Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya sumber daya alam dan beragam budaya. Namun, di balik potensi besar itu, masih ada pekerjaan rumah besar yang belum terselesaikan: ketimpangan ekonomi. Ini bukan sekadar tentang siapa yang punya lebih banyak uang, tapi soal siapa yang punya kesempatan lebih baik untuk hidup layak, mengakses pendidikan, hingga mendapat pekerjaan yang layak.
Sila ke-5 Pancasila, yaitu “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”, sebenarnya sudah menggariskan arah bahwa semua warga negara harus punya kesempatan yang sama dalam mengakses kesejahteraan. Sayangnya, kenyataan di lapangan masih berkata lain. Distribusi kekayaan, akses pendidikan, dan fasilitas publik masih timpang di banyak daerah.
Menggali Masalah: Kenapa Ketimpangan Masih Terjadi?
Tim mahasiswa dari Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Negeri Surabaya mencoba menjawab persoalan ini lewat sebuah proyek aktualisasi. Mereka menyusun kajian dan membuat video edukatif yang menggambarkan bagaimana ketimpangan bisa dirasakan bahkan dalam kehidupan kampus.
Beberapa faktor yang mereka soroti antara lain:
- Perbedaan akses pendidikan dan pelatihan kerja
- Keterbatasan fasilitas teknologi seperti laptop untuk mahasiswa kurang mampu
- Peluang kerja yang tidak merata
- Ketergantungan pada sektor informal
Semua ini berujung pada satu kenyataan: belum semua rakyat Indonesia merasakan keadilan sosial yang diamanatkan Pancasila.
Solusi: Kembali ke Semangat Pancasila
Melalui pendekatan deskriptif kuantitatif dan studi literatur, tim ini menyusun beberapa rekomendasi solusi yang bisa menjadi refleksi dan inspirasi:
- Pemberdayaan UMKM dan gotong royong ekonomi ala Pancasila.
- Peningkatan kualitas pendidikan melalui beasiswa dan pelatihan guru.
- Jaminan sosial yang lebih merata dan tepat sasaran.
- Pembangunan infrastruktur di daerah tertinggal.
- Penciptaan lapangan kerja formal yang inklusif.
- Penguatan institusi dan pemberantasan korupsi.
Simulasi Realita Lewat Video: Cerita Yudi dan Solidaritas Kampus
Dalam video yang mereka buat, kita diajak mengikuti kisah Yudi, mahasiswa yang tidak memiliki laptop namun tetap semangat kuliah dan kerja sambilan. Kisah ini menunjukkan bagaimana teman-teman sekelasnya bergotong royong membantu Yudi, dari mengerjakan tugas kelompok bersama, hingga menyemangatinya untuk menabung.
Cerita ini sederhana, tapi kuat menyampaikan pesan: keadilan sosial bukan soal menyamakan semuanya, tapi memastikan semua punya kesempatan dan dukungan yang sama untuk berkembang.
Tonton video kisah inspiratif Yudi di sini: https://youtu.be/FDhnu5JfNFE?si=lQxVfsFxLjpAJAEO
Akhir Kata: Sila ke-5 Bukan Sekadar Kalimat
Proyek ini mengingatkan kita semua bahwa Pancasila bukan hanya hafalan, tapi nilai hidup. Sila ke-5 bukan hanya tentang membagi, tapi tentang merangkul. Membuka akses, memberi kesempatan, dan mendukung sesama untuk maju bersama.
Kita bisa mulai dari hal kecil. Seperti membantu teman yang kesulitan, berbagi ilmu, atau menyuarakan keadilan di lingkungan masing-masing. Karena dari hal kecil itulah, cita-cita keadilan sosial bisa mulai terwujud.
Kalau kamu punya pengalaman atau pendapat tentang keadilan sosial di sekitarmu, yuk berbagi di kolom komentar!
-Kelas 2024A-